Activities

23.03.2011 Activities No Comments

Jadwal Kegiatan Harian Siswa SMP Lazuardi Insan Kamil

Waktu Kegiatan
04.00 – 04.15 Qiyamu Lail
04.15 – 04.45 Persiapan Shubuh, Shubuh, Doa
04.45 – 06.00 Life Skills (program keasramaan)
06.00 – 07.15 Istirahat, bersih-bersih, mandi dan makan pagi
07.15 – 07.25 Persiapan masuk sekolah
07.25 – 11.45 Belajar di sekolah
11.45 – 12.50 ISOMA
12.50 – 14.10 Belajar di sekolah
14.10 – 15.30 Istirahat
15.30 – 16.00 Shalat Ashar
16.00 – 17.30 Life Skills (unit aktivitas)
17.30 – 18.00 Mandi dan persiapan shalat Magrib
18.00 – 18.15 Shalat Maghrib
18.15 – 19.00 ISOMA (Makan Malam)
19.00 – 19.15 Shalat Isya’
19.15 – 20.30 Life Skills (program keasramaan)
20.30 – 21.30 Belajar kelompok, pribadi
21.30 – 04.00 Istirahat malam

23.03.2011 Activities No Comments

BOTOL IMPIAN DI SMP LAZUARDI INSAN KAMIL SUKABUMI

Oleh: Munif Chatib

Untuk kesekian kalinya saya berjumpa dengan ‘EAGLE SQUAD’, siswa-siswa yang luar biasa dahsyat di SMP LAZUARDI INSAN KAMIL SUKABUMI. Seperti biasanya mereka sangat antusias menunggu materi pelajaran dari saya. Terdengar bisik-bisik dari mereka, “Hari ini kita dapat apa lagi dari Pak Munif ya”. Saya hanya tersenyum mendengarnya.

Saya mulai beraksi. Saya minta Ja’far dan Miqdad untuk berdiri ke masing-masing sudut aula. Lalu saya saya minta Ali Zainal Abidin, Ian, Robi, Reza untuk berdiri di tengah mereka dan bersiap-siap melakukan instruksi yang sebentar lagi akan saya berikan.

“Buat Ali, dengan gerakan ‘slow motion’ cepat berlari ke arah Ja’far.’ Ali dengan lucunya berlari pelan ke Ja’far.

“Untuk Ian, cepat berlari menuju Miqdad”. Dengan senyuman khas Ian berlari ke Miqdad. Setelah mereke berdua sampai ke tujuan, saya minta semua siswa bertepuk tangan. Aula itu riuh. Namun ada yang interupsi. “Pak Munif ini maksudnya apa?” Saya meminta mereka bersabar.

“Sekarang Robi, silahkan lari ke arah Miqdad.” Nah yang ini agak lain. Ketika Robi berlari pelan menuju Miqdad, saya minta Farhan untuk menghalangi Robi. “Ayo Farhan, halangi si Robi sedapat mungkin jangan sampai ke Miqdad.

“Reza, let’s run to Ja’far. Noval, cepat halangi Reza untuk mencapai tujuannya,” perintah saya. Maka aula itu mulai ramai. Siswa yang lain saling bersorak memberikan dukungannya. Ada yang memberi dukungan untuk si penghalang ada yang mendukung si pelari. Apalagi semua gerakan mereka ‘slow motion’ jadi lucu kelihatannya. Akhirnya Robi berhasil mencapai Miqdad. Namun Reza gagal sampai ke Ja’far. Hanya setengah jalan. Noval yang berbadan lebih besar dari Reza mendekapnya erat. Lalu puncaknya saya minta si syarif untuk berdiri siap menerima intruksi.

“Syarif, cepat lari!” perintah saya. Syarif bingung. “Ayo jangan bengong, cepat lari!”

“Lari kemana Pak Munif?” Syarif hanya berdiri di tempat.

“Ya terserah, hitungan ketiga, cepat lari, satu, dua dan tiga!”

Syarif berlari dengan bingung, berputar-putar menuju Miqdad atau Ja’far.

Dengan simulasi adegan di atas, saya meminta siswa mengambil hikmahnya. Apa bedanya instruksi pertama, kedua dan ketiga. Dengan antusias Ali Reza berkomentar. “Instruksi pertama adalah instruksi yang jelas. Tapi instruksi ketiga, tidak jelas harus lari kemana.” Hebat bener sang pemikir ini. Saya minta mereka berkumpul melingkari saya.

“Instruksi pertama, sebenarnya yang jadi poin penting adalah TUJUAN. Ya ada tujuan atau target terlebih dahulu. Target itu adalah Ja’far dan Miqdad. Dua orang pelari pada instruksi pertama dengan lancar dapat berlari menuju TUJUAN. Namun pada instruksi kedua, ada HAMBATAN yang muncul untuk meraih TUJUAN. Lihatlah ada yang berhasil mengatasi HAMBATAN dan ada yang GAGAL. Sedangkan instruksi ketiga, saya sengaja memberikannya TANPA TUJUAN. Lihatlah apa yang terjadi pada Syarif, dia kebingungan mau lari kemana. Bahayanya kita ini kalau tidak mempunyai TUJUAN. Adik-adik sekolah ini adalah KENDARAAN adik-adik untuk berlari. Namun pertanyaannya apakah adik-adik mempunyai tujuan? Mempunyai cita-cita?

“Jujur pak Munif, saya masih bingung TUJUAN saya nanti mau jadi apa?” aku Robi.

“Saya yakin di kelas ini, masih banyak yang bingung bagaimana cara untuk menentukan TUJUAN-nya atau cita-citanya. Mau saya bantu menentukan TUJUAN?”

“Mauuuuuuu,” teriak semua siswa antusias.

Saya minta mereka untuk lebih mendekat. Saya membagikan kertas kecil kepada semua siswa. Cara menentukan TUJUAN itu mudah. Pertama, kita harus berani BERMIMPI. Ayo pejamkan mata, anggap kita sedang bermimpi. Apa mimpi itu? Mimpilah untuk menjadi seseorang yang berguna buat banyak orang. Mimpilah untuk mempunyai PROFESI yang sering diharapkan, Cuma kita takut profesi itu tidak akan terwujud. Hari ini buang jauh-jauh ketakutan itu. Ayo bermimpilah untuk menjadi seseorang yang berguna buat banyak orang.

Semua siswa memejamkan mata, lalu dari wajah-wajah mereka mulai satu persatu tersenyum. Saya yakin mereka sudah ‘dapatkan impiannya’. SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, kuliah 4 tahun. Total 10 tahun lagi impian itu dapat dibuktikan berhasil atau tidak.

“Okey, sekarang tuliskan impian itu di kertas dengan contoh sebagai berikut. Ali, dalam impianmu kamu ingin menjadi apa?” tanya saya.

“Pengusaha Pak Munif.”

“Kenapa?”

“Agar bisa membantu banyak orang yang hidup susah,” jawab Ali Zainal Abidin spontan.

Lalu saya minta Ali menulis di kertasnya sebagai berikut:

Bismillahi rohmanir rohim.

Aku Ali Zainal Abidin, hari ini aku bermimpi ingin menjadi PENGUSAHA untuk membantu orang-orang yang kesusahan dalam

mencari nafkah dalam kehidupannya. Ya Allah, kabulkan impianku. Singkirkan penghalang dan hambatan yang akan terjadi. Di sekolah inilah aku mulai berlari menuju impianku. Kabulkanlah Ya Allah. Betapa senangnya kedua orangtuaku, jika aku berhasil.

Ya Allah 10 tahun lagi aku harus menjadi PENGUSAHA.”

Sukabumi, 21 Januari 2011 sampai 21 Januari 2021

Tertanda Ali Zainal Abidin

Dengan contoh surat di atas, semua siswa menuliskan mimpinya. Lalu saya tantang dengan pertanyaan. “Maukan kalian saya berikan senjata untuk mengatasi dan mengusir HAMBATAN yang akan muncul pada saat berjuang meraih cita-cita?”

“Mauuuuuuuu.” Eagle Squad berteriak lagi.

“Ada lima langkah. Pertama DIRI, aku harus BISA. Kedua, TEMAN, aku harus bekerja sama dengan TEMAN. Ketiga, GURU, harus menghormati GURU. Keempat, LINGKUNGAN, aku harus siap menaklukkan lingkunganku yang berubah-ubah. Kelima, MATERI, aku harus cinta akan belajar.”

Lalu saya meminta siswa siap melakukan GAMES MENEMBAK BURUNG, bagaimana mempertahankan 5 SOP itu, DIRI-TEMAN-GURU-LINGKUNGAN-MATERI. Walhasil mereka senang sekali memainkan games ini. Puncaknya, saya meminta semua surat tersebut digulung dan dimasukkan ke dalam botol plastik untuk di tanam di halaman sekolah.

“Ayo cepat masukkan surat impian itu ke dalam botol ini. Saya ingin 10 tahun lagi adik-adik datang ke sekolah ini, tepatnya tanggal 21 Januari 2021. Lalu kita bongkar kembali botol impian yang terkubur selama 10 tahun itu. Kita buka dan baca kembali. Apa kita menjadi seperti dalam surat itu. Mau kalian balik lagi ke sekolah ini 10 tahun lagi?”

“Mauuuuuuuuuuuuuu,,” Eagle Squad berteriak lantang lagi.

Ketika surat akan dimasukkan ke dalam botol, ada yang mengintrupsi.

“Lebih bagus, kalau Pak Munif juga memberi tanda tangan di surat kami, dan Pak Munif 10 tahun lagi juga hadir di sekolah ini. Kami semua mendoakan Pak Munif sehat.”

Terharu sekali mendengarnya dan saya langsung mmbubuhi tanda tangan surat-sruta impian itu satu persatu.

Botol impian itu bersama-sama kami tanam di halaman sekolah. Seorang siswa memimpin doa kepada Allah SWT, semoga botol impian itu terwujud. Saya hanya melihat mulai saat itu semua siswa punya TUJUAN dan mereka mulai BERLARI. Ya allah permudahkalah mereka dalam meraih cita-citanya. Bantulah mereka jika menemukan HAMBATAN. Guratkan takdir, mereka akan menjadi pimpinan sesuai dengan kehebatannya masing-masing. Amien.

Sukabumi, Januari 2011

05.04.2010 Activities No Comments

Buramnya Pendidikan Agama, Benarkah?


Minimnya karakter dari pendidikan agama menjadikan tujuan menggapai puncak inti pembelajaran agama menjadi buram. Peristiwa kekerasan dan pertikaian dikalangan umat mencerminkan potret kurangnya karakter pendidikan agama.

Demikian benang merah seminar pendidikan karakter building yang berlangsung di Jakarta, Kamis, (1/4). Turut hadir dalam acara, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komarudin Hidayat dan Pendiri Sekolah Islam Lazuardi, Haidar Bagir.

Pada dasarnya, sistem pendidikan agama yang tengah berjalan begitu sempurna. Sayangnya, miskinnya kreasi dan inovasi dalam sistem itu menjadikan pendidikan agama seolah jalan ditempat.

Komarudin Hidayat berpendapat  tugas guru agama sekarang memang lebih berat. Oleh karena itu, kerjasama antara guru dan orang tua harus banyak dilakukan.

Ia menilai guru yang berhenti belajar harus berhenti mengajar. Demikian pula dengan orangtua, bila berhenti belajar maka jangan berharap banyak pada masa depan  anak-anaknya.

Hidayat mengibaratkan sehebat-hebatan mobil keluaran akhir, tidak lebih hebat ketika menghadapi montir. Demikian pula dengan sehebat-hebat montir tanpa mobil maka tiada berguna.

Oleh karena itu, Hidayat meminta agar para guru mampu memberikan pemahaman kognitif kepada anak. Pemahaman itu juga harus dibiasakan dan dikontrol. Para guru juga harus mengusahakan adanya proses berbagi pengalaman dengan contoh yang baik kepada murid-muridnya.

Terakhir, Hidayat menyarankan agar reward dan punishment harus dijalankan. Menurutnya, Semua anak berhak mendapatkan perhatian dan jangan pernah membanding-bandingkan anak.

Sementara itu, Haidar Bagir pendiri Sekolah Islam Lazuardi, mengatakan materi pelajaran agama di sekolah harusnya mengarah pada penanaman akhlak. Konkretnya, pelajaran akidah sebagai puncak pendidikan agama lebih diorientasikan pendidikan akhlak.

Haidar menyayangkan pendidikan agama cenderung mengalami kekurangan dua hal mendasar, yang pertama, pendidikan lebih bersifat simbolik, ritualistik, dan legal formalistik. Kedua, pendidikan harus mengarah pada tiga ranah kemanusiaan seperti ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.

Akibat dari hal itu, Haidar melihat penganut agama di negeri ini, memiliki pengetahuan dan keinginan tetapi tak dapat mewujudkannya dalam tindakan nyata lantaran tidak tergarapnya ranah psikomotorik.

(Dikutip semua dari : Republika Online)